Playing Victim

Saat shalat dzuhur di masjid, saya mencuri dengar beberapa ibu-mahasiswi yang sedang mengobrol. Seperti biasa, perempuan memang suka mengobrol banyak hal dari A-Z dan juga suka mencuri dengar (ini saya ;p). Sependek range pendengaran saya, mereka sedang membandingkan diri dengan mahasiswi lain dalam tugas presentasi.

“Saya kan baru buat slide tadi malam”, “Saya kan harus kerja, bukan cuma kuliah saja”, “Saya kan harus mengurus ini-itu, bukan hanya mengerjakan tugas”, “Saya kan harus ngurus anak juga”.

Alasan dan pembenaran yang jamak, bukan? Saya, anda, kita, pernah menyampaikan hal yang sama. Memang benar begitu faktanya, tapi apakah itu hal yang sebaiknya dilakukan?

Saya yakin banyak dari kita pernah membuat alasan-alasan tersebut untuk menutupi ketidakmampuan kita dalam menyelesaikan tugas (terutama saya). Menurutmu, apakah salah jika membuat alasan seperti itu?

Continue reading

Bundle of Luck (and Miracle)

Pekan ini yang saya kira akan melelahkan dan menantang, ternyata berjalan mulus dan menyenangkan. Saya mendapatkan feedback yang menyenangkan dan positif. Hidup memang begitu, suka sekali memberikan kejutan-kejutan yang terkadang menyenangkan.

Itulah kehidupan saya di paruh pertama tahun ini. Saya diterima di perguruan tinggi yang baik dengan program yang saya harapkan, kemudian mendapatkan pendanaan yang sangat membahagiakan. Keberuntungan yang tidak pernah saya duga sebelumnya.

Tepat sebulan yang lalu, saya menjalani status baru sebagai mahasiswa S2. Status yang sangat membahagiakan terutama karena sudah saya nanti sejak 4-5 tahun yang lalu. Perjalanan #2019GantiStatus ternyata berujung pada perubahan status dari Karyawan menjadi Mahasiswa 😀

Setelah awal tahun ini diterima sebagai mahasiswa, saya mencoba peruntungan untuk mendaftar beasiswa. Biasanya jika dibuka di tahun ini berarti perkuliahan baru akan dimulai tahun depan. Alhamdulillahnya, batch yang dibuka memungkinkan saya untuk mendaftar tahun ini dan kuliah di bulan September ini. Sebuah keberuntungan!

Perjalanan beasiswa bersama orang-orang keren!

Continue reading

When Rain meets Romance

#1: Raindrops

Today, you said that everything is too late.
Rain is already pouring,
Soil is already wet,
My heart is already drench.
Soak. Exhausted.

This rain. Today. And You.
Should I let everything hit me
systematically like raindrops
stab this ground?

#2: Teardrops

Rain is blessing.
This dry season is too long and too hot.
Everyone is hoping rain can come soon.
As soon as your disappearance.

When rain is pouring,
everyone should be happy, right?
Like your sudden arrival
and a box of gift with your heart-full smile.
But why I feel being betrayed?

I love rain but I hate being wet.
Drench, soak, drown, sink.
I love you but I hate being with you.
Maybe, love is always
and will always this complicated.

— first times pouring in forever 🌧️☔

Mengapa (ingin) Menikah?

Pertanyaan bodoh bukan? Terlebih jika pertanyaan (atau pernyataan) tersebut diungkapkan oleh perempuan lajang diakhir usia 20something.

Banyak sebab orang menikah. Entah karena tuntutan orang tua dan sosial, kebutuhan akan perhatian serta biologis, ataupun tersebab menggenapkan separuh agama.

Alasan terakhir adalah alasan paling rancu dan paling naif bagi orang dewasa apatis yang forever alone 😂.

Apakah pernikahan akan selezat pistacio dan green tea?

Continue reading

10 Tahun dari Sekarang

9 tahun lalu, saat umur saya berubah menjadi kepala dua, saya membuat azzam bahwa di tahun 2030 (saat saya berumur 40 tahun) saya akan menjadi profesor psikologi yang bermanfaat bagi banyak orang.

Dan, di penghujung tahun 2019, azzam itu tampak terasa mendekat, mengikuti, dan untungnya, masih terasa masuk akal bagi kondisi saya sekarang.

10 tahun mendatang, apakah Allah masih memberi umur pada saya?

Continue reading