Mengapa Skripsi itu Lama?


Dulu, sebelum saya selesai skripsi dan sidang, selalu saja ada yang bertanya ‘kok, ngerjain skripsinya lama?’ atau pertanyaan-pertanyaan lain yang sebenarnya setali-tiga uang. Anehnya, setelah skripsi saya tamat, tidak ada satu pun yang tanya, ‘sudah lulus?’. Memang, menabur garam pada luka itu lebih asoy :3

Sebelumnya saya pernah nulis disiniย bahwa saya yang nggak lulus-lulus dan saya yang nggak tahu kenapa saya nggak lulus-lulus. Karena sekarang saya sudah lulus, saya sudah bisa menjawabnya *pamer ๐Ÿ˜€

Mengapa mengerjakan skripsi itu lama? Saya menemukan 4 alasan utama mengapa skripsi itu lama. Ini berdasarkan pengalaman saya lho, sepertinya akan berbeda pada tiap orang :3

1. Judul, Tema, Referensi Skripsi yang Dipilih.
Banyak teman saya yang gonta-ganti judul skripsi karena tidak di-ACC dosen pembimbingnya. Banyak pula yang tidak meneruskan proposal skripsinya yang sudah disusun dengan susah payah saat TPS (teknik pembuatan skripsi, mata kuliah khusus pra-skripsi).

Saya, karena suka ngeyel, judul saya tetep, dari TPS hingga revisi pasca sidang skripsi. Meskipun berubah beberapa sisi tetapi esensi dan gambaran penelitiannya tetap. Tapi, ini juga merupakan masalah tersendiri. Saya sangat menyukai konstrak yang saya ambil, sayangnya konstrak tersebut belum familiar dan masih jarang referensinya. Disinilah perjuangan saya.

Tidak ada dosen yang mengenal konstrak saya sehingga saya sendiri lah yang harus belajar konstrak tersebut, sendirian. Mulai searching referensi, memahaminya (semua referensi berbahasa asing :|), mengkonsultasikannya pada penulis aslinya, baru setelah itu menggambar konsep penelitian yang saya inginkan. Daann, ternyata tidak mudah melalui proses tersebut. Pada setiap variabel saya menghabiskan satu semester untuk mengenal dan memahaminya. Itu berarti saya memakan dua semester untuk dua variabel penelitian saya. Untungnya, meskipun skripsi saya terdapat tiga variabel, variabel ketiga tidak memakan waktu selama itu ;).

Jadi, kalau mau lulus cepat dan nggak rempong, pilihlah judul, tema, konstrak, variabel yang familiar, awam sehingga referensinya melimpah dan mudah. Percayalah fase gila mencari dan memahami variabel tidak akan se-alay saya :3

2. Metode Penelitian, Pengambilan dan Pengolahan Data.
Ada proses penelitian yang kilat, sebulan bahkan seminggu selesai. Ada proses penelitian yang lambaat seperti siput, berbulan-bulan. Khusus untuk ilmu sosial (maksudnya psikologi :3), ambil data macam kuantitatif korelasi dengan ambil data yang cuma sekali adalah metode tercepat. Berbeda dengan eksperimental apalagi fenomenologi dan studi kasus yang harus bangun rapor, interview, dan probbing berulang-ulang.

Tappiii, meskipun saya juga pakai metode kuantitatif yang cuma sekali ambil data tetap saja proses ini saya lalui panjang, berliku, dan penuh duri. Mengapa? Jawabnya karena saya alay.

Saya alay karena sok-mau-ambil-data-ke-banyak-banget-sekolah. Repotlah saya, meminta izin pada dinas. Izin ke tiap sekolah. Itupun kalau diizinkan, jika tidak, mutunglah saya.ย Jika dihitung-hitung, proses perizinan-uji coba skala-ambil data penelitian menghabiskan waktu hingga lima bulan. Olah datanya? tiga bulan sendiri. Totalnya lebih dari satu semester. Alay dan rempong, bukan? Itu lah saya.

Jadi, jika ingin proses ini terlampaui dengan mudah dan nyaman, lakukanlah dengan bersahaja dan sederhana. Populasi dan subjek yang mudah perizinannya, mudah ambil datanya, dan pengolahan data yang mudah menganalisisnya. Bijak bukan? :p

3. Dosen Pembimbing Tercinta
Kata teman saya yang mangkel pada dosen pembimbingnya, skripsinya yang lama dan terhambat itu semua karena dosennya yang mempersulit. Husnudzon saya padanya, mungkin ia terlalu lelah. Husnudzon saya pada dosennya, mungkin itu hanya atribusi eksternal teman saya ๐Ÿ˜€

Saya? Dosen pembimbing saya sangat baik dan kooperatif. Jika teman saya selalu bingung dan linglung setelah bimbingan, saya sangat berbahagia dan merasa tercerahkan. Jika teman saya dimarahin-dikritik-disalahkan semua draf skripsinya, saya justru dijelaskan secara gamblang dan diberi masukan-masukan yang membangun.

Satu hal paling utama yang sangat saya sukai dari dosen pembimbing saya adalah beliau memberikan kebebasan penuh pada saya sebagai seorang peneliti. Ketika saya bimbang dengan aspek dan teori mana yang bisa saya pakai, beliau memberi masukan tanpa memaksa dan kemudian menyerahkan pengambilan keputusannya pada saya. Saya benar-benar bersyukur diberi kebebasan tersebut. Saya benar-benar menikmati proses intelektual yang saya alami.

Hanya saja, dosen pembimbing saya itu sibuknya minta ampun. Minggu ini ke kota ini, minggu depan ke kota lain, bulan depan ke luar pulau. Aduh! Itulah mengapa bimbingan dengan beliau adalah keajaiban dan mukjizat, karena beliau sangat sulit ditemui. Alhamdulillahnya, di semester terakhir saya mengambil skripsi, beliau sudah berkurang kesibukannya dan selalu tampak di kampus. Menyenangkan sekali jika saya dapat menemuinya.

Terima kasih banyak, Bu. Bravo!

4. Penyakit Utama Skripsi: Prokastinasi!
Prokastinasi alias malas dan suka menunda-nunda adalah penyakit utama saya. Semester pertama saya mengambil skripsi saja saya buang-buang percuma untuk mengerjakan hal lain yang sok-saya-anggap lebih prioritas daripada mengerjakan skripsi.

Biasanya, setelah nggak nemu-nemu jawaban dari banyak pertanyaan penelitian di kepala saya sendiri, saya mutung. Setelah ditolak izin ke sekolah, saya mutung. Setelah nggak paham-paham metode analisis data, saya mutung. Kalau mutung? Saya segera menyingkirkan skripsi dan mencari-cari kerjaan lain. Parah bukan? Menyengaja-untuk-tidak-segera-mengerjakan skripsi.

Prokastinasi itu lebih parah saya alami ditambah dengan sikap saya yang mudah galau. Maksudnya, ketika belum paham atau menemukan jawaban dari banyak pertanyaan, saya tidak mau menghadap dosen. Saya tidak PD. Saya harus menemukan jawaban dahulu sebelum saya berani konsultasi dengan dosen pembimbing.

Gara-gara sikap ini, saya benar-benar menghindari kampus, campus refusal mungkin :|. Saya mimpi sedang bimbingan dengan dosen. Saya menghindari dosen pembimbing. Puncaknya, saya males keluar rumah. Tidak mengakses social network. Menjauhkan diri dari handphone atau telpon.

Pada akhirnya, saya sadar bahwa saya sendirilah yang membunuh diri saya. Jadi, saya harus bangkit. Menghadapi gunung ketakutan di hati saya daann akhirnya luluslah saya ๐Ÿ˜€

Benar jika skripsi sebenarnya adalah perjuangan meregulasi diri, perjuangan menjadi manusia, pembelajaran menjadi peneliti dan pembelajar sejati.

Meskipun saya menyesali mengapa saya tidak sadar lebih cepat. Akan tetapi, sungguh, saya menikmati proses pembelajaran ini. Saya menikmati alur panjang, memutar, dan berliku ini. Semoga saya dapat menjadi lebih bijak.

Teman, selamat mengerjakan skripsi. Selamat mereguk perjalanan ini!

Advertisements

16 thoughts on “Mengapa Skripsi itu Lama?

  1. sampaikan ke abangmu. .
    memang lebih kepada ujian ketangguhan ketabahan kesabaran dan akumulasi kesemuanya. …. semoga sukses selalu. ..

  2. lama ga lama itu cuma soal ‘birokrasi’..
    tapi proses belajar ga kenal waktu, jangan sampe kita cepet lulus (dalam standar birokratis) tapi ga menikmati dan tidak mendapat pencerahan..
    it’s wasting time..
    proses belajar itu masih lama..
    jangan sampe pengen cepet lulus gara2 ga mau lagi belajar..

  3. Hahahaha sama banget lah ini sama saya. Kuliah lancar banget, skripsi lama banget. Proses pembelajaran diri banget sih memang. Setidaknya udah tau lah ya kekurangan diri sendiri, tetep Alhamdulillah.

  4. Hai Fauziahamalia… salam kenal..
    Tulisanmu pas banget sama yang aku alamin baru-baru ini… Terkadang memang ketakutan atau kekhawatiran itu muncul karena diri sendiri yang menciptakannya :p

  5. Hai, kak. Saya mahasiswi semester 8 yg jg lagi galau masalah ini. Makasih atas tulisannya. Saya jadi belajar banyak bahwa setiap orang memiliki ‘timeline’ masing2. ndak bisa disamakan karena dosen dan judul skripsi beda2 ๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s