Delayed Gratification


Tampaknya dalam beberapa bulan (atau satu tahun?) terakhir saya memiliki masalah dengan delayed gratification. Apa sebab? Karena saya tidak mampu menyelesaikan satu pun tulisan dan menguploadnya dalam blog ini.

Sepele sebenarnya. Namun, dengan keterlaluan banyaknya alasan sok-sibuk dan sok-lelah, saya melupakan kenikmatan yang saya dapatkan setelah selesai menulis. Itulah mengapa saya sedang bermasalah dengan perihal ini.

***

Kamu mungkin pernah tidak sengaja (ataupun disengaja) menonton video eksperimen sosial tentang anak kecil dan marshmallow. Eksperimen unik tersebut menujukkan bahwa anak kecil sulit menahan diri dari godaan marshmallow yang manis dan fluffy itu.

Dan tahukah kamu, eksperimen yang merupakan salah satu bagian dari penelitian longitudinal tersebut menyatakan bahwa anak yang mampu menahan diri dengan baik, memiliki kemungkinan sukses yang besar.

Eksperimen tersebut sebenarnya mengenai delayed gratification, atau bahasa Indonesia nya adalah penundaan kepuasan.

Terdapat banyak bentuk penundaan kepuasan, namun intinya adalah kemampuan kita untuk menunda hal-hal menyenangkan yang kita inginkan untuk dilakukan di lain waktu. Mengapa? Karena disaat ini, kita perlu melakukan hal-hal lain yang akan meningkatkan kenikmatan tersebut. Terlalu rumit?

Persis seperti eksperimen diatas, anak yang bisa menunggu 1 jam akan mendapatkan 1 bonus marshmallow sedangkan anak yang memilih memakan marshmallow nya saat ini juga tidak akan mendapatkan tambahan marshmallow.

Inti dari penundaan kepuasan adalah kontrol diri.

Kita belajar saat ini — meskipun tidak menyenangkan — untuk persiapan masa depan yang lebih baik.

Kita berpuasa — meskipun hal tersebut menyakitkan dan tentu saja, lapar yang tiada tara — karena kita yakin bahwa puasa itu baik, berkah, dan dibalas dengan ganjaran yang banyak.

Kita bersabar, berdisiplin, berjuang, atau bahkan berkorban — dengan darah dan air mata — karena besar keyakinan kita bahwa hal tersebut akan memberikan kebaikan yang besar, bukan hanya untuk diri kita tapi juga orang lain. Bukan hanya untuk di dunia, tapi juga di hari kemudian.

Penundaan kepuasan ini tentang seberapa kuat kita melakukan proses yang tidak menyenangkan saat ini dengan keyakinan bahwa perjuangan tersebut akan berbuah kebaikan yang sangat manis.

Orang yang mampu menahan diri dengan baik, bersusah-susah dahulu, akan mendapatkan kesenangan kemudian.

Akan tetapi, sialnya, banyak orang yang kehilangan keyakinan akan balasan dari penundaan kepuasan ini.

Saat ini, banyak yang tidak lagi percaya bahwa kejujuran akan berujung keberuntungan. Pasalnya, fenomena one-night success yang terlalu menggiurkan.

Layaknya mie instan, kita mengharapkan kebahagiaan yang instan pula. Padahal, easy come easy go.

Surga adalah balasan yang tak terkita nikmatnya tidak lagi menggiurkan. Mengapa? Karena hal ini hanya bisa dijadikan motivasi bagi orang yang benar-benar percaya.

Orang yang kehilangan kepercayaan bahwa dibalik proses yang panjang pasti ada kemuliaan, bahwa mutiara butuh waktu yang panjang, bahwa intan butuh ditempa dengan panas dan tekanan yang besar, tidak akan mampu bertahan dengan penundaan kepuasaan.

It takes great amounts of faith to deal with delayed gratification.

In the final analysis, hasil tak pernah mengkhianati usaha. Jadi, jangan pernah berhenti percaya, teman!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s