Gelegak Pemuda

Terlepas dari betapa tidak tepatnya saya promosi lomba SMP-SMA yang akan diselenggarakan di sekolah saya, karena blog ini tidak dikonsumsi oleh kalangan abege (padahal yang baca diri sendiri πŸ˜…πŸ˜†), saya ingin menceritakan kesungguhan murid-murid saya memperjuangkannya.

Hari ini H-9 menuju Olimpiade Humaniora Nusantara, event tahunan terbesar yang (sekolah) kami adakan. Sejak sepertiga awal tahun ini, murid-murid saya sudah antusias merencanakannya.

Apa yang menyenangkan dari fragmen ini sehingga ingin saya ceritakan? Kesungguhan, kenekadan, dan ketidaksabaran khas anak muda lah yang menarik untuk dibahas. Continue reading

Advertisements

Merona Senja

Senja yang memerah malu mengintip dari kisi jendela kaca kereta sore ini
Masih dua jam hingga aku sampai ke tujuan.
“Molor banget!” itu runtukku pada pipi tersipu-sipu senja yang manis itu

Bau keringat, kaos kaki menyeruak pekat. Untunglah asap rokok tidak ikut mencemari udara.

Ada adik kecil bercerita tak kunjung henti pada Ibunya. Matanya berbinar, pipinya berseri. Manis.
Ada kumpulan pemuda tanggung duduk diujung gerbong sambil bercanda, sembari mengeluh.
Ada Bapak paruh baya dengan tiga batu akik di tangan di tangan kirinya. Mengangguk, terkantuk-kantuk.

Keringat mengalir dan menetes satu-satu dari pelipis ke ujung dagu kemudian membasahi jilbabku. Lelah.

Saya rasa, saya kurang bersyukur.

Sekelebat segalanya tampak berkilau mengemas dengan cahaya senja yang kian temaram, kian bersemu hangat. Manis yang menentramkan.

Ya Allah, sungguh, saya bersyukur.

[] penghujung oktober, dalam ayunan kereta lokal yang berderak senja itu.

Afraid of Future

“Apa yang kamu cari, mal?”
Saya tahu, mata mereka berkata demikian saat saya mengungkapkan keinginan saya. Aneh. Hidup saya sekarang ini adalah kehidupan yang menyamankan. Safe zone. Bekerja dengan gaji yang baik. Pekerjaan yang menyenangkan. Kolega dan teman kerja yang asyik dan akrab. Apalagi yang saya minta sebenarnya.

Tetapi bukan masa depan macam ini yang saya impikan. Bukan rutinitas dan kehidupan macam ini yang saya petakan. Bukan kehidupan yang terlalu nyaman seperti ini. Aneh. Sekali lagi, aneh. Mata mereka berkata demikian. Menggetarkan tekad saya. Saya tergoda, saya goyah. Continue reading

The Beginning of My One-Year-Journey

20140622_145224Ini cerita saya. Maybe it’ll be sound very petty but please, let me write whatever I want πŸ˜€

Setelah melewati masa pengangguran yang melelahkan hati dan jiwa (sebetulnya saya tidak sepenuhnya nganggur, hanya saja status part-timer atau pengangguran itu cukup melelahkan), akhirnya saya memutuskan untuk move on! Saya move on dari target plan A (ba’da S1 langsung kuliah S2 tanpa kerja dulu) menuju plan B (menunda S2 dengan bekerja, membuka hati untuk peluang beasiswa yang lain).

Semudah itu kah saya move on? Dengan darah dan air mata, saya meyakinkan diri saya bahwa pengalihan target tersebut bukan berarti saya melepaskan mimpi-mimpi saya tetapi menundanya untuk kesempatan yang lebih baik. Semoga, Insya Allah..

Daann, setelah move on, saya memutuskan pada pilihan yang ekstrim! Bekerja sebagai guru di sebuah sekolah Boarding School diujung barat pulau Jawa. Kenapa guru? Karena sebenarnya, saya tidak pernah membuka option pada diri saya untuk bekerja diluar bidang yang saya minati, yaitu pendidikan dan perkembangan psikologi manusia. Option itu adalah benteng terakhir saya untuk menjaga mimpi saya tetap hidup. Seddihhnyaa πŸ˜₯

*Karena itu, saya selalu iri dengan kabar teman saya yang kuliah S2. Piinggginnya itu selangiiit~*

It sound petty, right? Sungguh, saya berusaha untuk bersyukur dan ikhlas. Bukankah syukur dan ikhlas itu proses? Maka, biarkan saya berproses untuk menginternalisasinya.

Dan, disinilah saya berada. Di kaki gunung, dipinggir pantai, di sebuah dusun di bagian kabupaten Serang. Meski sebenarnya berada disini bukanlah pilihan pertama, pilihan ini saya ambil dengan penuh konsekuensi dan tanggung jawab. Jadi, menjadi guru yang inspiratif dan bekerja sepenuh hati adalah konsekuensi dan tanggung jawab saya.

Maka, biarkan saya memulai perjalanan panjang satu tahun di kawah candra dimuka ini. Layaknya perjalanan-perjalanan sebelumnya, semoga perjalanan panjang ini -bukankah kehidupan adalah perjalanan yang panjang?- menumbuhkan dan mendewasakan saya disetiap denyutnya. Semoga, semoga, dan Insya Allah, semoga!

So, this is it, my beginning of one-year-journey!!

Back and Forth Journey

Banyak perjalanan yang saya lakukan di paruh terakhir tahun 2013. Sayangnya, kegilaan saya terhadap skripsi-sidang-revisi-yudisium membuat saya tak mampu menyempatkan diri menuliskannya di blog.

Biarkan saya menguraikan perjalanan itu satu per satu.

Jogja with One <3

Jogja with One ❀

Pertengahan tahun 2013, 17 Mei, saya pergi ke Jogja. Meninggalkan data yang diolah setengah jadi 8D. Kali ini bukan seminar macam call for paper tetapi bedah buku. Motivasi dalam Perspektif Psikologi Islam. Menarik sekali buku ini sampai saya bela-belain datang dari Semarang ke Jogja, bersama seorang teman, One πŸ˜‰ Continue reading

Menjenguk Habib

Setelah Habib pergi lebih dari tiga bulan, baru kali ini saya bisa mengunjunginya. Senangnyaaa >.<

Habib adalah adik laki-laki saya. Dia pintar dan berwajah mulus :3 Tahun ini adalah tahun pertamanya berada di pesantren. Jadi, masa-masa ini adalah masa adaptasi yang krusial. Jika berhasil dan ia betah, maka masa-masa selanjutnya akan lebih mudah dan menyenangkan. Karena itu, Ibu saya biasanya mengunjunginya sebulan sekali dan menelponnya seminggu sekali.

Bukan perkara mudah untuk melakukannya. Jika hendak menelpon, sangat sulit sekali menelpon langsung ke pondoknya. Maka, biasanya, adik saya menelpon Ibu saya dengan meminjam telpon genggam Ibu teman yang sedang berkunjung sehingga Ibu bisa segera menelpon balik. Jadi, tak selalu setiap minggu bisa menelponnya. Jika ingin menjenguk, Habib biasanya meminta dijenguk di hari Jumat, karena itu hari liburnya.

Perjalanan Semarang-Ponorogo adalah perjalanan yang panjang. Dari Semarang menuju Solo, dari Solo menuju Madiun, dari Madiun ke Ponorogo. Belum selesai, dari terminal Ponorogo menuju Mlarak, Gontor hanya bisa ditempuh dengan angdes yang sangat jarang lewat sehingga biasanya menggunakan ojek. Setelah itu barulah sampai Gontor. Continue reading