Tentang Perempuan Kuat

Saya mendeskripsikan perempuan kuat dengan 2 orang perempuan hebat yang mengisi hidup saya. Kedua nenek saya.

Satu telah berpulang 12 tahun yang lalu. Satu masih berjuang dalam kehidupan ini.

Saya selalu menyebut beliau berdua sebagai perempuan hebat. Sayangnya, kehebatan beliau belum menurun pada saya. Meskipun demikian, saya selalu mengenang beliau dengan rasa haru dan kebanggan yang besar.

***

Nenek saya yang telah berpulang bernama Arofah. Beliau meninggal di tahun 2007, saat saya kelas 2 SMA. Saat itulah pertama kalinya saya melihat Bapak saya menitikkan air mata.

Beliau adalah pribadi yang hebat. Dan seperti yang kalian tahu, orang hebat selalu memulai perjuangannya sejak kecil. Sependek yang saya dengar, Mbah Putri saya ini pedagang yang ulung sejak masih belia. Beliau bangun pagi, menyiapkan dagangan, membawanya dengan sepeda onthel yang biasanya sudah habis sebelum siang.

Saat saya masih kecil, beliau berdagang material bahan bangunan. Mbah Putri saya selalu bangun dini hari, menyiapkan kebutuhan keluarganya — masakan beliau sangat lezat dan rumah beliau sangat rapih, kemudian membuka toko. Menyapu kapur — dulu masih menggunakan kapur bukan semen dan pasir, merapikan tatanan bata dan genteng.

Selain pengusaha yang amanah, beliau juga pribadi yang sangat pemurah. Tidak bisa dihitung banyaknya orang yang menyapa saya saat berbelanja di pasar hanya karena saya cucunya.

Pengajian setiap malam Jumat yang diadakan di rumah beliau, dulu, juga selalu ramai. Saya ikut serta membantu mencuci gelas, menuangkan teh dari ceret besar, membungkus kue nagasari – sembari mencuil adonannya. Betapa beliau memuliakan tamu dan hadirin pengajian.

Hal ini juga berlaku saat pemakaman beliau, banyak orang yang berta’ziah dan turut berkabung. Pengajian sepekan ba’da pemakaman beliau juga selalu dipenuhi oleh orang-orang yang mendo’akan beliau.

Nenek saya yang kedua adalah Soenarti. Beliau adalah pensiunan guru SD. Saat ini usia beliau sekitar 90 tahun.

Mbah Putri saya ini menjalani hidup yang amat berat. Suaminya, kakek saya, hilang di saat ramainya isu PKI di tahun 1965. Beliau harus bersembunyi entah dimana untuk menyelamatkan diri. Saya tidak tahu pasti ceritanya, yang saya tahu bahwa Nenek saya kemudian berjuang membesarkan keempat anaknya tanpa suami sejak Om saya (anak bungsunya) belum genap 2 tahun.

Entah seberat apa perjuangannya, beliau berhasil menyekolahkan seluruh putra-putrinya menjadi sarjana.

Ibu saya pernah bercerita bahwa beliau mengajar di pagi hari dan menerima jahitan di siang hari. Untuk kebutuhan besar, beliau harus memanen padi sendiri, menjemurnya, dan memilahnya menjadi beras. Beliau juga mampu menyulam, membatik, dan beragam kerajinan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan.

Di usianya yang senja saat ini, dengan kulit yang sedemikian keriput, saya selalu berpikir bagaimana bisa beliau melalui kehidupan tersebut.

***

Kedua nenek saya adalah pribadi yang keras. Meskipun keduanya memiliki gaya yang berbeda, keduanya punya semangat hidup yang besar dan disiplin.

Saya selalu kelelahan mengikuti ritme kerja beliau yang sedemikian padat dan saya selalu takjub dengan keduanya. Saya selalu iri mengapa saya, yang kehidupannya jauh lebih nyaman, tidak bisa menjadi pribadi yang sedemikian hebat. Pribadi intan.

Perempuan hebat ini memang tidak seterkenal Mother Teresa, Cut Nyak Dien, atau bahkan Kartini. Akan tetapi saya selalu berharap bahwa keduanya ditempatkan Allah di Surga paling indah nanti.

Rabbighfirlii waaliwaalidayya warhamhuma kama rabbayaani shaghiraa

Advertisements

Busybody 

Saya memiliki draf ini sejak Mei 2015. Kebaikan sikap masinis kereta api yang sedang saya tumpangi mengingatkan saya pada draf yang mangkrak ini.

Hidup sekarang ini individualis. Sebenarnya bukan hanya sekarang ini, sikap individualis sudah sejak dahulu kala tercipta. Dewasa ini makin marak, mungkin karena peran gadget, mungkin juga karena kita terlalu lelah berempati.

***

Suatu waktu, ketika keluarga kami sedang jalan-jalan pagi. Ada saluran air yang mampet sehingga air hujan malam sebelumnya tergenang. Bapak dan Mas saya sibuk mencari cara untuk membuatnya mengalir. Menyogok-nyogok, melakukan ini, melakukan itu. Tampak sibuk sekali. Sebenarnya dibiarkan pun tidak masalah, toh tidak se-wow itu genangannya sehingga harus segera dilancarkan. Namun, Bapak dan Mas saya memilih untuk membuatnya mengalir meskipun pada akhirnya gagal. Continue reading

Rajutan Kesedihan

Pernahkah kau melukis kesedihan?
Biru, kelabu, mendung

Pernahkah kau merajut selendang
dari tetesan air mata?
Selembut kehilangan,
sepedih kerinduan.

Apakah kau tahu kapan kau menjadi dewasa?
Ketika orang terdekatmu, yang selalu ada,
didekap Tuhan tanpa bel penanda.

Aku tahu,
94 purnama itu masa yang panjang
Terlalu panjang hingga aku terlalu yakin bahwa masa itu tak lagi akan datang

Aku tahu,
pertemuan itu pasti berjodoh dengan perpisahan
Tetapi terlalu lama bertemu melenakan aku dari perpisahan yang niscaya

Do’a-do’a terbaik, bait kerinduan yang tersyair, kenangan kebaikan yang terpatri.

Sampai jumpa Mbah Kakung terkasih,
Semoga do’a-do’a terbaik kami meringankanmu dihadapan Ilahi.

*Bait-bait do’a dan kerinduan untuk Mbah Kakung kami, H. Mochtar bin Sahlan yang wafat siang ini (30/4/2016). Sungguh kami mencintaimu, Mbah.

RUMAHKU, MADRASAHKU

RUMAHKU, MADRASAHKU
(Sari Kajian Keluarga, bersama Ustadz Salim A. Fillah)

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Saya ikut tercengang, waktu ustadz menyampaikan hasil survei kecil-kecilan yang beliau lakukan pada keluarga aktivis di Yogyakarta tahun 2005 lalu. Salah satu hal yang beliau survei adalah para anak-anak dari keluarga aktivis tersebut. Dan hasilnya, 30% dari seluruh sampel menyatakan harapannya, kelak jika sudah dewasa mereka tidak ingin mengikuti jejak orangtuanya (menjadi aktivis dakwah).

Melihat hasil survei yang begitu “menyakitkan” tersebut, ustadz pun memfollow-up dan melakukan kontak intensif dengan narasumber. Fenomena apakah ini? Continue reading