Bahasa Cinta

Dalam beberapa kesempatan, saya mengkhawatirkan adik-adik saya.

Saat kecil dulu, saya selalu diberi tanggung jawab oleh Ibu untuk mengasuh adik. Memandikan, mencebokinya ketika BAK atau BAB, mengantar sekolah dan mengaji, membayarkan SPPnya, juga memarahi mereka ketika sulit diberitahu.

Saat besar seperti sekarang ini, saya terkadang lupa bahwa mereka sudah mampu bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Sesungguhnya, usia mereka saat ini jauh lebih dewasa dibanding saat saya mengurusi mereka dulu. Akan tetapi, rasa khawatir selalu ada.

Mengkhawatirkan urusan sekolahnya, cucian bajunya, temannya di sekolah, PRnya.
Mengkhawatirkan sikapnya pada guru, uang sakunya yang mungkin tak cukup, manajemen waktunya yang amburadul.

Saya mengkhawatirkan segalanya. Aahh, sungguh mereka bukan adik kecil saya lagi, mereka adalah pribadi utuh yang siap menantang proses pendewasaan dirinya. Layaknya saya saat mengasuh mereka dulu.

I believe in you, my younger sisters and brothers. I love you a lot, much stronger than you think ❤️

Advertisements

RUMAHKU, MADRASAHKU

RUMAHKU, MADRASAHKU
(Sari Kajian Keluarga, bersama Ustadz Salim A. Fillah)

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Saya ikut tercengang, waktu ustadz menyampaikan hasil survei kecil-kecilan yang beliau lakukan pada keluarga aktivis di Yogyakarta tahun 2005 lalu. Salah satu hal yang beliau survei adalah para anak-anak dari keluarga aktivis tersebut. Dan hasilnya, 30% dari seluruh sampel menyatakan harapannya, kelak jika sudah dewasa mereka tidak ingin mengikuti jejak orangtuanya (menjadi aktivis dakwah).

Melihat hasil survei yang begitu “menyakitkan” tersebut, ustadz pun memfollow-up dan melakukan kontak intensif dengan narasumber. Fenomena apakah ini? Continue reading