Antologi Puisi (2)

#2 Lamunan 80 Hitungan

Motorku berderit dipertigaan Depok petang ini.

80
Zebra cross penuh akan motor yang menderu,
penat, pekat, basah.
Petang turun perlahan seperti kelam
yang menutupi hati-hati.

70
Gadis kecil dengan rambut coklat kemerahan
sepertinya selalu terduduk  di sudut jalan itu,
Terlebih petang ini, saat gelayut mendung sejak senja tadi
Senyumnya yang getir sebasah keringatku yang mulai mengering.

60
Gadis itu memukul lembut lengan kakak lelakinya,
Tertawa jenaka. Sepertinya.
Namun aku melihat perih disela geliginya,
mungkin mataku mulai kabur tergerus lelah.

50
Klakson. Beberapa motor berderit dan menggerung.
Lampu masih merah. Mungkin terlalu rindu akan rumah.

Apakah kau rindu akan rumah, Gadis berambut merah?
Aku bertanya padamu melalui hatiku,
mata kita bersiborok. Kau mendengarku, Gadis kecil?

40
Aku melihat kerling matamu. Bening.
Dalam mata rabunku ini,
bening matamu menjelma air mata yang mengering,
menempel dalam kornea matamu.

30
Kau tahu aku memperhatikanmu, Gadis kecil?
Kakak lelakimu tertawa sembari menggelar kardus yang kalian bawa

Apakah kau akan tidur di sudut jalan ini, Gadis manis?

20
Aku melihat gelengan kepalamu pada kakakmu.
Apakah kau mau tidur di rumahku, Manis?

Di rumahku, ada sebuah kasur hangat yang kosong tanpa pemiliknya.
Dengan boneka beruang coklat yang lembut,
Aku pun akan membacakan dongeng Ibu peri yang baik hati.

10
Semua motor mulai mengklakson. Riuh.
Mendung mulai menjelma hujan. Tetes tetes.
Jaketku basah.

8
Aku mencari sosokmu di sudut tadi.
Langkah kecilmu berlari terseok-seok mencari emper yang kering dan hangat. Mataku berembun, Sungguh!

0
Lampu berganti hijau. Motorku melaju.
Mataku tetap menatap bayangan sosok kecilmu, Gadis.
Perih.

[] Pertigaan Depok. Hujan diakhir April.

Advertisements

Antologi Puisi (1)

Saya dan teman-teman komunitas menelurkan ide untuk membuat sebuah antologi puisi. Hanya sebagai sebentuk kesungguhan kami dari pergumulan sastra yang positif. Maka, jadilah antologi puisi ini. Sangat amatir namun inilah sebentuk cinta kami.

Selamat membaca~ Continue reading

Berapa lama lagi bom itu akan kau peram, kawan?
Seorang anak lugu berkucir kuda bertanya pada temannya yang tertunduk. Hidungnya memerah, hatinya membara, namun tangannya melunglai.

Kita tak punya daya, ujar anak lugu itu sembari memanggut.

Suatu Masa, Suatu Waktu

Aku menyukai masa lalu,
ketika pijar semangat itu masih membara dan membakar
ketika api idealisme itu menghanguskan jiwa oportunis nan skeptis.

Aku menyenangi masa remaja,
ketika tekat bulat mengalahkan rongrongan penjilat,
ketika nekat diselebungi harapan yang pekat akan madaninya dunia.

Aku menangisi masa kini,
karena rasa-rasanya sisa prinsip mengikis dan semakin habis
karena justru idealisme tanpa jejak itu melahirkan sikap pragmatis yang egois.

Sungguh, aku ingin kembali pada diriku yang dulu.

[]

Jangan Manja!

Sepertinya aku mulai manja
Mudah merajuk saat
harapan yang dibangun perlahan
tetiba runtuh disapu badai realitas

Sepertinya aku mulai manja
Meneteskan air mata, menangis sesenggukan
hanya karena kegagalan dan
ketidakpastian datang menyerbu,
serasa dari segala penjuru

Sepertinya aku mulai manja
Berharap hidup dan realitas sebaik ibu peri
berharap kepahitan menyublim menjadi madu yang legit

Tangguh. Kuat. Teguh.
Seharusnya aku belajar lebih ksatria
yang menghantam getirnya hidup
dengan senyum bercahaya asa

-Anyer, 4 Ramadhan 1436H.