Life isn’t Just About You

Despite of a-hectic-busy-exhausting day which I am living now, I realize that many business, works, or tasks are about others. I have so many things that not only depend on me but also depend on others. We relate, depend, and being influenced by other people.

That condition is frustrating, at least for me. A lot of works and tasks are out of schedule and deadline because other’s poor works. And it affects our works and then it becomes proof that we also have a poor performance. And it was, has been, is frustrating very much for me.

This frustrating feeling then affects my emotion, my patience, my mood. Really bad effect. And it makes me realize that life isn’t just about me, myself, my work, mine. Life is about others, actually.

My frustrating, exhausting, annoying feeling came from my expectation of myself to do a great work without realizing that there was other’s work contribution in mine. This ignorance attitude born in difference face, blaming others.

Covey, in the 8th habits, said that focus in your influence circle. Don’t give your self a false hope for something that you even can’t control. It is wasting energy, time, and emotions. Focus on other’s influence circle is my wrong attitude. I can’t accept mine and then blame others.

So, in this late work time, I try to introspect my wrongdoing by writing down this feeling. I am still had a lot things to do, unfinished tasks because my ignorance.

Wish me luck~!

Advertisements

First Time Archery

Saya bukan mencinta olah raga. Setiap minggu olah raga? Saya hanya akan olah raga jika “dipaksa” olah bersama adik, teman, atau keluarga. Saya memilih membaca buku atau berkubang kasur di setiap liburan dibanding berolah raga. Tetapi, kali ini berbeda. Memanah! Sounds cool and interesting, right?

Dimana saya? :3

Dimana saya? :3

Continue reading

Terima Kasih!

Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih.

Entah mengapa hari ini saya ingin berterima kasih atas banyak kenikmatan yang ada.

Sungguh, saya berterima kasih atas nikmat segala nikmat dari The Greatest Power, Allah SWT. Terima kasih, terima kasih, terima kasih. Meskipun kebersyukuran ini sebenarnya tidak bernilai.

Sungguh saya berterima kasih atas kesempatan, waktu, atau apapun yang diberikan oleh orang lain yang ada di sekitar saya. Meskipun itu tak pernah disadari, meskipun itu semua seperti tidak berarti.

Sungguh, saya berterima kasih kepada keluarga terbaik. Bapak, Ibu, Mas Sahlan, Intan, Afi, Anis, Asiyah, Habib, Azmi. Terima kasih karena sudah mau, walaupun terpaksa ikhlas menjadi keluarga, orang tua, dan saudara dari orang yang absurd ini 😀 Terima kasih karena ada di semua kondisi, baik sehat, sakit, bahagia, sedih, waras, ataupun ketika saya mulai menggila. Terima kasih atas teriakan, perkelahian yang seru, obrolan yang menyenangkan, ataupun apapun bentuk perhatian yang ada. Sungguh saya mencintai kalian, sedalam cinta saya untuk masuk bersama-sama dalam surgaNya. Aaaamiiinn~

Sungguh, saya berterima kasih pada Mbah Kakung, Mbah Soenarti, Mbah (almh) Arofah, karena telah memberikan banyak kebijaksanaan dan contoh hidup yang nyata. Pentingnya bekerja keras dan usaha yang tiada matinya. Terima kasih juga pada Pakdhe, Budhe, Om, Bulik, saudara sepupu yang selaluu menjadi kehangatan tersendiri ketika berkumpul. Semoga selalu, kebaikan berada di hati dan jiwa kita.

Sungguh-sungguh, saya berterima kasih kepada teman-teman yang pernah melintas dalam kehidupan saya. Baik saat pendidikan formal, atau nonformal, saat kegiatan kampus, atau kegiatan apapun. Yakinlah, ketika kalian merasa sebagai teman saya, berarti saat menuliskan ini, benak saya berpikir dan mengingat kalian. Mengingat jutaan kebaikan yang kalian berikan pada orang yang tidak ada pertalian darah ini. Sungguh, saya terkadang malu.

Sungguh, saya bukanlah teman yang baik ataupun sahabat yang setia. Saya tidak selalu ada saat sedih ataupun bahagia. Saya tidak seintim sahabat yang sering bertanya mengenai kabar ataupun memahami kondisi hati kalian. Saya terlalu papa untuk dianggap sebagai sahabat, teman, atau apapun namanya. Terima kasih karena telah berbagi kebahagiaan dalam sepotong fragmen kehidupan kalian yang beririsan dengan kehidupan saya.

Sungguh, semua itu adalah kenangan yang membahagiakan yang sangat berharga.

Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih. Ribuan terima kasih rasanya tak mampu dan tak pantas saya ucapkan atas ribuan kebaikan yang telah diberikan tanpa pamrih pada saya. Allah SWT, keluarga, dan teman.

Sungguh, saya tidak bisa membalas apapun. Saya tidak bisa menggantikan apapun. Saya tidak bisa mengobati ribuan kekecewaan kalian semua pada saya. Tetapi sungguh, terima kasih yang selaksa ini diucapkan dari hati dan kebersyukuran yang mendalam.

Sekali lagi, terima kasih. Semoga Allah membalas ribuan kebaikan kalian, selaksa kebahagiaan yang telah kalian beri. Semoga kelak Allah menjadikan kita semua bertetangga di surgaNya. Aaaamiiin~~

Sekali lagi, sekali lagi, Terima kasih!!

The Beginning of My One-Year-Journey

20140622_145224Ini cerita saya. Maybe it’ll be sound very petty but please, let me write whatever I want 😀

Setelah melewati masa pengangguran yang melelahkan hati dan jiwa (sebetulnya saya tidak sepenuhnya nganggur, hanya saja status part-timer atau pengangguran itu cukup melelahkan), akhirnya saya memutuskan untuk move on! Saya move on dari target plan A (ba’da S1 langsung kuliah S2 tanpa kerja dulu) menuju plan B (menunda S2 dengan bekerja, membuka hati untuk peluang beasiswa yang lain).

Semudah itu kah saya move on? Dengan darah dan air mata, saya meyakinkan diri saya bahwa pengalihan target tersebut bukan berarti saya melepaskan mimpi-mimpi saya tetapi menundanya untuk kesempatan yang lebih baik. Semoga, Insya Allah..

Daann, setelah move on, saya memutuskan pada pilihan yang ekstrim! Bekerja sebagai guru di sebuah sekolah Boarding School diujung barat pulau Jawa. Kenapa guru? Karena sebenarnya, saya tidak pernah membuka option pada diri saya untuk bekerja diluar bidang yang saya minati, yaitu pendidikan dan perkembangan psikologi manusia. Option itu adalah benteng terakhir saya untuk menjaga mimpi saya tetap hidup. Seddihhnyaa 😥

*Karena itu, saya selalu iri dengan kabar teman saya yang kuliah S2. Piinggginnya itu selangiiit~*

It sound petty, right? Sungguh, saya berusaha untuk bersyukur dan ikhlas. Bukankah syukur dan ikhlas itu proses? Maka, biarkan saya berproses untuk menginternalisasinya.

Dan, disinilah saya berada. Di kaki gunung, dipinggir pantai, di sebuah dusun di bagian kabupaten Serang. Meski sebenarnya berada disini bukanlah pilihan pertama, pilihan ini saya ambil dengan penuh konsekuensi dan tanggung jawab. Jadi, menjadi guru yang inspiratif dan bekerja sepenuh hati adalah konsekuensi dan tanggung jawab saya.

Maka, biarkan saya memulai perjalanan panjang satu tahun di kawah candra dimuka ini. Layaknya perjalanan-perjalanan sebelumnya, semoga perjalanan panjang ini -bukankah kehidupan adalah perjalanan yang panjang?- menumbuhkan dan mendewasakan saya disetiap denyutnya. Semoga, semoga, dan Insya Allah, semoga!

So, this is it, my beginning of one-year-journey!!

Sepertinya, Aku terlalu Mencintaimu

Ini hari berbahagia, sungguh. Seharusnya hari ini menjadi hari yang benar-benar bahagia. Kakakmu menikah, dan kau sangat cantik dengan sanggul manis, kebaya yang memerah merona, serta jalanmu yang agak kikuk, terhuyung.

Aku datang untuk turut berbahagia. Merasakan kebahagiaan yang kau kecap. Merasai cinta yang terhembus. Menciumi gempita yang menguar dari pori-porimu.

Aku menunggumu datang. Dengan gamis adikku (karena aku tak suka pakai gamis) dan ransel hitamku yang besar. Karena setelah ini, aku harus ke kampus. Maaf kiranya membawa ransel di walimahan kakakmu.

Matamu mencarimu. Kukira wajahmu akan terbalut kerudung sanggul yang sedang populer saat ini. Atau paling tidak, ada secarik kain manis diatas kepalamu, menutupi rambutmu.

Aku tersenyum getir ketika kau melihatku ramah. Aku mencarimu dalam dirimu, kedalam matamu. Aku masih meragukanmu ketika kau berkata terima kasih telah datang. Aku ingin menangis, sungguh. Kau menggenggam tanganku erat. Mengayun-ayunkan genggamaan kita persis seperti saat kita berbalut abu-abu dulu.

Aku ingin pergi dari tempat ini. Segera. Kemudian aku undur diri, berkata ada janji yang menunggu. Kemudian tersenyum pahit serasa air meleleh dari sudut mataku. Aku yakin kau tahu pedihku.
Sungguh kawan, aku terlalu mencintaimu.

– Februari, 2012.

Kemudian, di waktu-waktu yang datang. Ketika kemudian aku tak sengaja melihat foto-fotomu dalam facebook, kembali hatiku pedih. Kemana secarik kain yang kau gunakan saat kuliah itu. Gumamku sepertinya tak pernah sampai ke hatimu, kawan. Mungkin itu yang kusebut dengan sedih.

 

Prinsip!

Sekarang saya sedang gandrung membaca buku 7 Habitsnya Setphen R Covey. Telat banget yaa… Padahal buku ini sudah digandrungi sejak beberapa tahun lalu, saya denger kabar bahwa ada versi terbarunya juga. Sayangnya, saya belum selesai membacanya. On going, sama statusnya dengan penataan ulang paradigma yang saya lakukan pada diri saya 🙂

Orang yang efektif memiliki pusat diri berupa prinsip. Prinsip berasal dari nilai atau virtue yang bersifat universal. Layaknya keadilan, kebenaran, kejujuran, ataupun kebajikan. Continue reading

Nice to Meet You (again)!

Not having contact with internet more than two weeks is enough annoying. The most annoying thing is I let my internet course, pass through 😥 I missed two-three weeks course and it means I can’t finished them..

But, okay, I’ll try to cope it with any solution I can find. So, nice to meet you again internet. This week, I’ll present you two or more stories. Please anticipate it! 😀