Ogekkon omedetou, Oniichan~

Advertisements

Last Day of 25 Years Old Girl

25 years old is an adventurous year,
An age where guilty feeling for own self is overflowing,
A phase where everything seems so unclear and unfair.

25 years old is a taking life off,
Where an important desicion taken of,
When failling, falling, and quitting become choises for optimisist.

25 years old is an up and down stage,
Stage of achievement yet failure,
Stage of determined path or trivial steps. But there is no wasting point in living.

An act between self, ego, and grown up etiquette.

Goodnight, 25!
Welcome a mature and wise self[]

wp-1477499825105.jpg

Gelegak Pemuda

Terlepas dari betapa tidak tepatnya saya promosi lomba SMP-SMA yang akan diselenggarakan di sekolah saya, karena blog ini tidak dikonsumsi oleh kalangan abege (padahal yang baca diri sendiri πŸ˜…πŸ˜†), saya ingin menceritakan kesungguhan murid-murid saya memperjuangkannya.

Hari ini H-9 menuju Olimpiade Humaniora Nusantara, event tahunan terbesar yang (sekolah) kami adakan. Sejak sepertiga awal tahun ini, murid-murid saya sudah antusias merencanakannya.

Apa yang menyenangkan dari fragmen ini sehingga ingin saya ceritakan? Kesungguhan, kenekadan, dan ketidaksabaran khas anak muda lah yang menarik untuk dibahas. Continue reading

Antologi Puisi (2)

#2 Lamunan 80 Hitungan

Motorku berderit dipertigaan Depok petang ini.

80
Zebra cross penuh akan motor yang menderu,
penat, pekat, basah.
Petang turun perlahan seperti kelam
yang menutupi hati-hati.

70
Gadis kecil dengan rambut coklat kemerahan
sepertinya selalu terduduk Β di sudut jalan itu,
Terlebih petang ini, saat gelayut mendung sejak senja tadi
Senyumnya yang getir sebasah keringatku yang mulai mengering.

60
Gadis itu memukul lembut lengan kakak lelakinya,
Tertawa jenaka. Sepertinya.
Namun aku melihat perih disela geliginya,
mungkin mataku mulai kabur tergerus lelah.

50
Klakson. Beberapa motor berderit dan menggerung.
Lampu masih merah. Mungkin terlalu rindu akan rumah.

Apakah kau rindu akan rumah, Gadis berambut merah?
Aku bertanya padamu melalui hatiku,
mata kita bersiborok. Kau mendengarku, Gadis kecil?

40
Aku melihat kerling matamu. Bening.
Dalam mata rabunku ini,
bening matamu menjelma air mata yang mengering,
menempel dalam kornea matamu.

30
Kau tahu aku memperhatikanmu, Gadis kecil?
Kakak lelakimu tertawa sembari menggelar kardus yang kalian bawa

Apakah kau akan tidur di sudut jalan ini, Gadis manis?

20
Aku melihat gelengan kepalamu pada kakakmu.
Apakah kau mau tidur di rumahku, Manis?

Di rumahku, ada sebuah kasur hangat yang kosong tanpa pemiliknya.
Dengan boneka beruang coklat yang lembut,
Aku pun akan membacakan dongeng Ibu peri yang baik hati.

10
Semua motor mulai mengklakson. Riuh.
Mendung mulai menjelma hujan. Tetes tetes.
Jaketku basah.

8
Aku mencari sosokmu di sudut tadi.
Langkah kecilmu berlari terseok-seok mencari emper yang kering dan hangat. Mataku berembun, Sungguh!

0
Lampu berganti hijau. Motorku melaju.
Mataku tetap menatap bayangan sosok kecilmu, Gadis.
Perih.

[] Pertigaan Depok. Hujan diakhir April.

A Tale of Strong Woman

Sebenarnya saya tidak terlalu suka membaca otobiografi. Somehow, su’udzon saya, autobiography show some kind of arrogancy. Padahal enggak juga, saya aja yang nyinyir πŸ˜›
But, this book don’t show it at all. Otobiografi ini ditulis sedemikian rupa hingga serasa membaca novel. Sangat mengalir dan menyenangkan.

Saya selalu tertarik dengan cerita tentang wanita, perempuan yang memikul tanggung jawab moral dan sosial dari perannya, menjadi dewasa dan kuat dari proses panjang meskipun melelahkan.

Buku ini menceritakan satu dari banyak perempuan hebat yang sangat menginspirasi. Seorang perempuan kuat dari Cina-Amerika dalam Otobiografinya, Menekuk tanpa Menjadi Patah (Bend not Break) Continue reading