Coping focused Emotion

Dalam dunia psikologi yang -ceritanya- saya pelajari saat kuliah dulu, bagaimana seseorang (manusia) menghadapi stres disebut coping. Mungkin dari asal bahasa Inggris “cope”. Nah, coping tersebut ada dua jenis. Coping yang berfokus melegakan perasaan negatif yang disebut coping focused emotion, dan coping dengan menyelesaikan pusat masalah yanh ada disebut coping focused problem.

Saat kuliah dulu, dimana saya sok-sangat-idealis-logis, saya merasa coping focused emotion itu adalah pekerjaan orang yang suka lari dari masalah. Orang yang sehat akan memilih melakukan coping focused problem yang jelas menyelesaikan masalah.

Dan ternyata, saya menjilat ludah saya sendiri.

***

Tiga tahun belakangan ini, saat saya sudah aktif menjadi pencari sesuap nasi. Dunia kerja jelas berbeda rasa dengan dunia belajar (kuliah ataupun sekolah). Saat di sekolah ataupun kampus, bersikap egois dan individualis tidak begitu panjang dampaknya. Sekadar tidak punya teman atau ketinggalan informasi. Untuk orang soliter nan individualis, hal tersebut bukan masalah. Atau paling tidak, saat sekolah, kita dapat dengan nyaman memilih teman, dan menghindari teman yang tidak menyenangkan.

Saat bekerja? Adaptasi dan toleransi tinggi adalah kunci yang paling baik. Punya rekan sekerja yang tidak cocok dan menyenangkan tidak berarti kita bisa semena-mena minta ganti partner. Kalau kata adik saya yang baru hitungan pekan bekerja, pekerjaan kita dipengaruhi oleh banyak pekerjaan orang lain. Oleh karena itu, bersikap soliter dan individualis bisa berarti bahwa kita tidak cukup profesional untuk bekerja. Nah lho..

Sayangnya itulah yang terjadi pada saya. Saya berada dalam posisi tidak nyaman, ingin mengkonfrontasi sekaligus ingin lari. Tapi tak bisa. Alhasil, begini lah saya. Berkubang dengan kegiatan coping focused emotion. Apakah saya lari dari masalah?

Continue reading

Advertisements

Hello, Self!

How’s life?

I can’t remember when was the last time I write in this blog. Maybe almost half of year. I am burried by daily things and works, ofcourse. That’s my excuse.

A lot of things which I want to write down but, yeah, just wanting and willing without acting mean nothing.

I don’t remember that I write something about new years things and it’s already March 😱😱

I have a lot of things to catch on!

Aaah, but that’s fine. I need to control my self to be on the track, the track which I love the most.

So, see you again self, see you again my blog~~ 

Last Day of 25 Years Old Girl

25 years old is an adventurous year,
An age where guilty feeling for own self is overflowing,
A phase where everything seems so unclear and unfair.

25 years old is a taking life off,
Where an important desicion taken of,
When failling, falling, and quitting become choises for optimisist.

25 years old is an up and down stage,
Stage of achievement yet failure,
Stage of determined path or trivial steps. But there is no wasting point in living.

An act between self, ego, and grown up etiquette.

Goodnight, 25!
Welcome a mature and wise self[]

wp-1477499825105.jpg

Gelegak Pemuda

Terlepas dari betapa tidak tepatnya saya promosi lomba SMP-SMA yang akan diselenggarakan di sekolah saya, karena blog ini tidak dikonsumsi oleh kalangan abege (padahal yang baca diri sendiri 😅😆), saya ingin menceritakan kesungguhan murid-murid saya memperjuangkannya.

Hari ini H-9 menuju Olimpiade Humaniora Nusantara, event tahunan terbesar yang (sekolah) kami adakan. Sejak sepertiga awal tahun ini, murid-murid saya sudah antusias merencanakannya.

Apa yang menyenangkan dari fragmen ini sehingga ingin saya ceritakan? Kesungguhan, kenekadan, dan ketidaksabaran khas anak muda lah yang menarik untuk dibahas. Continue reading