Dramatic (less) Life

As drama lover, I saw many dramatic scenes which I don’t want to imagine if my life turn down like them. That’s why I prefer a realistic plot drama to extraordinary life.

As School Counselor of High School, I have seen many problems which appear because of their own self. Everyone have problem, but their attitude is whats really matter.

Moreover for my teenagers student, how responsive they are, just make their own problem become bigger and too complicated to solve. That’s the reason why I am here beside them ๐Ÿ˜Š

Pan to Soup to Neko biyori is one of my favorite example of facing big problem with calm attitude. Let me tell you a lot of things about this relaxing drama ๐Ÿ˜„

This drama told about a life of Aki-chan, 40something woman who just lost her mother because accidental fall in toilet. She worked in publishing company where led her to meet Sensei.

Then, everything start when she choose to resign from their work because of the new management things which not suitable with her. That decision led her to reopen her mother eating place (too simple to called it as restaurant).

Aki chan’s struggle starts here. How she deals with the pain of losing her Mother, giving up of her career, and facing her life. Her choice to open her style of eating place is another journey to discover her self.

And at that time being, someone from her mother’s past come and give another shocking news. How she deal with that shocking fact is completely awesome!

I love how she deals with everything. Keep calm and cool. No hard feeling, no drama. She is her and she is accepting her own self completely. Her compassion of her own life is cool!


This drama is somekind of relaxing vibe for me. Sometimes when I starts acting out like drama queen, I play this 4-lenghts- episodes dorama and relax my drama side.
I choose to be as cool as Aki chan, even though that’s pretty hard. But, I will living my life as dramaticless as her.

Good bye, drama queen~! ๐Ÿ˜„

PS: They have a cute OST! []

Advertisements

I’m (not) Looking for Happiness

A couple days ago (which already last April), my student asked me with his lifeless looking eyes, “Ustazah, Apa yang membuat Ustazah bahagia?”. It took me a moment to answer, “Pertanyaan yang sulit.” and then we laughed together.

Have you ever thought like that? If my student didn’t ask me, maybe I also don’t know for sure what can makes me feel happy. After our long conversation, in my way back home, I thought a lot of things.

What makes my self happy? And then what happy is it self?

Some people said that happy is getting whatever they want. But, people are greedy creature. Getting more, wanting more.

Others said that life is looking for happiness, not becoming successful or rich. But become a happy person.

Which one is right? Continue reading

Sulit, Mudah, RidhaNya

satu waktu, sudah lama sekali
seseorang berkata dengan wajah sendu
“alangkah beratnya.. alangkah banyak rintangan.. alangkah berbilang sandungan.. alangkah rumitnya..”

aku bertanya, “lalu?”
dia menatapku dalam-dalam, lalu menunduk
“apakah sebaiknya kuhentikan saja ikhtiar ini?”

“hanya karena itu kau menyerah kawan?”
aku bertanya meski tak begitu yakin apakah aku sanggup menghadapi selaksa badai ujian dalam ikhtiar seperti dialaminya
“yah.. bagaimana lagi? tidakkah semua hadangan ini pertanda bahwa Allah tak meridhainya?”

aku membersamainya menghela nafas panjang lalu bertanya, “andai Muhammad SAW berpikir sebagaimana engkau menalar, kan adakah islam di muka bumi?”
“maksudmu akhir?”, ia terbelalak

“ya. andai Muhammad berpikir bahwa banyak kesulitan berarti tak diridhai Allah, bukankah ia akan berhenti di awal-awal risalah?”

ada banyak titik sepertimu saat ini, saat Muhammad bisa mempertimbangkan untuk menghentikan ikhtiar
mungkin saat dalam rukuknya ia dijerat dibagian leher
mungkin saat ia sujud lalu kepalanya disiram isi perut unta
mungkin saat ia bangkit dari duduk lalu dahinya disambar batu
mungkin saat ia dikatai gila, penyair, dukun, dan tukang sihir
mungkin saat ia dan keluarga diboikot total di syi’b Abi Thalib
mungkin saat ia saksikan sahabat-sahabatnya disiksa di depan mata
atau saat paman terkasih dan istri tersayang berpulang
atau justru saat dunia ditawarkan padanya; harta, tahta, wanita..”

“jika Muhammad berpikir sebagaimana engkau menalar
tidakkah ia punya banyak saat untuk memilih berhenti?

tapi Muhammad tahu, kawab
ridha Allah tak terletak pada sulit atau mudahnya
berat atau ringannya, bahagia atau deritanya, senyum atau lukanya, tawa atau tangisnya”

“ridha Allah terletak pada
apakah kita menaatiNya dalam menghadapi semua itu
apakah kita berjalan dengan menjaga perintah dan larangNya dalam semua keadaan dan ikhtiar yang kita lakukan”

“maka selama disitu engkau berjalan
bersemangatlah kawan…”

– Salim A. Fillah, Dalam Dekapan Ukhuwah hlm. 343-344.

Kekata itu mengingatkan saya pada senandung yang indah, Sekeping Hati. []

Mengapa Kematian Selalu Menyedihkan?

Saya tidak pernah menangisi perpisahan,
Pergi merantau, pindah, berpisah dengan keluarga, karib, sahabat, dan teman,
Saya tidak pernah bersedih.

Rindu? Bukankah zaman sudah serba canggih?
Ada telepon, email, smartphone yang bisa videocall.

Tetapi kematian selalu bercerita lain,
Kematian selalu bertutur akan perpisahan abadi, kerinduan yang terpatri, atau bahkan tangis tersedu hingga isak tiada terdengar lagi.

Kematian selalu beriring dengan kesedihan,
Selalu berdenyut bersama duka,
Tetapi juga mengeja do’a-do’a terbaik, bait kerinduan termanis, dan tentu saja harapan yang besar untuk bisa berkumpul kembali di Taman terindah milikNya.

Hai Kematian, sampai jumpa kematian. Semoga Allah selalu memberkahi dan meridhoi.

*Teruntuk Pakdhe Hukama Rivai yang berpulang hari ini (2/12/15). Doa selalu teruntai dari kami, keluarga besar yang selalu mencintaimu.

Kelelahan Pikiran

Hampir sebulan saya tidak menulis disini. Satu hal karena entah mengapa wordpress sulit diakses dari laptop saya. Sebab lain karena saya berada di ambang kelelahan. Burn out.

Apa itu lelah? Bagi saya, lelah bukanlah capainya badan karena mengerjakan banyak hal. Saya sebut kelelahan macam itu dengan antusiasme. Seperti remaja laki-laki yang sedang gandrung main bola. Pagi, sore, selaluu saja main bola. Dia capai tetapi ia tidak lelah.

Apa itu lelah? Bagi saya, lelah itu ketika ide-ide di kepala mandeg. Tidak bisa dikeluarkan. Tidak bisa didiskusikan. Rasanya seperti terpasung atau bahkan dikebiri. Itu kelelahan yang melelahkan.

Apa itu lelah? Bagi saya, lelah itu ketika tidak ada orang yang bisa diajak diskusi. Tidak ada orang yang bisa diajak berbagi antusiasme. Tidak ada orang yang bisa diajak berbicara dan berpikir mengenai mimpi dan hal-hal besar lainnya. Penat seperti air comberan yang mandeg.

Saya rasa, menjadi dewasa, menjadi orang -yang katanya- dewasa adalah hal yang melelahkan. Karena menjadi dewasa berarti berhenti membicarakan mimpi, berhenti menjadi ekspresif, berhenti menguarkan antusiasme. Saya lelah menjadi orang dewasa macam itu.

Hanya berpikir tentang pekerjaan yang realistis, gaji, pengeluaran bulanan, atau semua hal yang ada tepat di depan mata. Menjemukan, membosankan, membunuh optimisme.

Lama-lama saya rindu rumah dan kelompok studi di kampus. Kedua tempat yang membiarkan saya menjadi saya yang optimis dan ekspresif. Membiarkan saya menguarkan antusiasme dan bahkan merespon mimpi besar saya yang -kata orang dewasa pada umumnya- tidak realistis.

Sungguh, saya merindui kedua rumah itu dan diri saya yang dulu.