A Tale of Strong Woman

Sebenarnya saya tidak terlalu suka membaca otobiografi. Somehow, su’udzon saya, autobiography show some kind of arrogancy. Padahal enggak juga, saya aja yang nyinyir 😛
But, this book don’t show it at all. Otobiografi ini ditulis sedemikian rupa hingga serasa membaca novel. Sangat mengalir dan menyenangkan.

Saya selalu tertarik dengan cerita tentang wanita, perempuan yang memikul tanggung jawab moral dan sosial dari perannya, menjadi dewasa dan kuat dari proses panjang meskipun melelahkan.

Buku ini menceritakan satu dari banyak perempuan hebat yang sangat menginspirasi. Seorang perempuan kuat dari Cina-Amerika dalam Otobiografinya, Menekuk tanpa Menjadi Patah (Bend not Break) Continue reading

Advertisements

Sulit, Mudah, RidhaNya

satu waktu, sudah lama sekali
seseorang berkata dengan wajah sendu
“alangkah beratnya.. alangkah banyak rintangan.. alangkah berbilang sandungan.. alangkah rumitnya..”

aku bertanya, “lalu?”
dia menatapku dalam-dalam, lalu menunduk
“apakah sebaiknya kuhentikan saja ikhtiar ini?”

“hanya karena itu kau menyerah kawan?”
aku bertanya meski tak begitu yakin apakah aku sanggup menghadapi selaksa badai ujian dalam ikhtiar seperti dialaminya
“yah.. bagaimana lagi? tidakkah semua hadangan ini pertanda bahwa Allah tak meridhainya?”

aku membersamainya menghela nafas panjang lalu bertanya, “andai Muhammad SAW berpikir sebagaimana engkau menalar, kan adakah islam di muka bumi?”
“maksudmu akhir?”, ia terbelalak

“ya. andai Muhammad berpikir bahwa banyak kesulitan berarti tak diridhai Allah, bukankah ia akan berhenti di awal-awal risalah?”

ada banyak titik sepertimu saat ini, saat Muhammad bisa mempertimbangkan untuk menghentikan ikhtiar
mungkin saat dalam rukuknya ia dijerat dibagian leher
mungkin saat ia sujud lalu kepalanya disiram isi perut unta
mungkin saat ia bangkit dari duduk lalu dahinya disambar batu
mungkin saat ia dikatai gila, penyair, dukun, dan tukang sihir
mungkin saat ia dan keluarga diboikot total di syi’b Abi Thalib
mungkin saat ia saksikan sahabat-sahabatnya disiksa di depan mata
atau saat paman terkasih dan istri tersayang berpulang
atau justru saat dunia ditawarkan padanya; harta, tahta, wanita..”

“jika Muhammad berpikir sebagaimana engkau menalar
tidakkah ia punya banyak saat untuk memilih berhenti?

tapi Muhammad tahu, kawab
ridha Allah tak terletak pada sulit atau mudahnya
berat atau ringannya, bahagia atau deritanya, senyum atau lukanya, tawa atau tangisnya”

“ridha Allah terletak pada
apakah kita menaatiNya dalam menghadapi semua itu
apakah kita berjalan dengan menjaga perintah dan larangNya dalam semua keadaan dan ikhtiar yang kita lakukan”

“maka selama disitu engkau berjalan
bersemangatlah kawan…”

– Salim A. Fillah, Dalam Dekapan Ukhuwah hlm. 343-344.

Kekata itu mengingatkan saya pada senandung yang indah, Sekeping Hati. []