Pendidikan dan Pembinaan

Saya rasa ini post pertama yang beneran-jadi-diupload di tahun ini. Konyolnya post terakhir saya adalah pertengahan tahun lalu. Ya Rabb~! 🙈

Sejujurnya tulisan ini saya buat untuk curhat dan membenarkan pendapat pribadi. Jadi memang hawa pembenaran diri akan sangat kuat. Mohon dimaklumi jika otot-ngeyelnya terasa kuat 🙏

***

Kalau dihitung kasar, empat tahun menjadi guru BK membuat saya paham bahwa betapa dangkal keilmuan dan pemahaman yang saya miliki. Masalah murid yang saya hadapi sekarang membuat saya sadar akan banyak hal mengenai pendidikan karakter.

Mendidik dan membina itu tugas guru dan sekolah. Orang tua juga punya peran yang sama. Lingkungan pun begitu. Pemahaman bahwa tugas menjadikan anak memiliki pribadi yang kuat dipikul oleh banyak pihak membuat konsep pendidikan karakter menjadi semakin holistik. It takes a village to raise a child.

Di sekolah tempat saya berkhidmat, pelanggaran-pelanggaran kedisiplinan akan berkonsekuensi pada hukuman juga pembinaan. Pembinaan dengan durasi empat bulan dan dipikul oleh empat komponen. Wali kelas, wali asrama, BK, dan kedisiplinan. Setiap komponen harus melakukan coaching minimal 1 bulan dan jangka empat bulan. Itu aturan tertulisnya, pelaksanaannya sering kali lebih dari itu.

Pembinaan seperti itu pun masih punya banyak lubang. Ada yang mengatakan kurang efektif, ada yang berpendapat bahwa justru membuat anak semakin caper — anak-anak di sekolah kami justru sangat suka diperhatikan gurunya 😅 –, atau apalah itu. Sebagai pihak mengontrol dan bertanggung jawab atas hal tersebut, sungguh saya merasa tergelitik. Pembinaan apa yang sebenarnya diharapkan?

Saat masih menjadi mahasiswa dulu, saya pernah mengikuti sebuah call for paper dengan bahasan utama pendidikan karakter. Saya masih ingat betul pertanyaan panel tentang jangka waktu penanaman karakter. Dulu — hingga sekarang — saya percaya bahwa karakter itu terbentuk dari proses yang panjang dan kompleks. Bukan bermaksud membuatnya rumit, namun karakter bukanlah hal terbangun dari satu variabel tunggal melainkan dari banyak variabel yang dikemas dan berjalan dengan amat natural.

Lalu bagaimana dengan pendidikan karakter? Terlepas dari aturan dan sistem yang tertulis dan rigid tentang pelaksanaan pendidikan karakter, saya lebih percaya pada hidden curriculum, kurikulum yang tersembunyi bahwa setiap pribadi adalah guru — dengan status pengajar atau bukan –, bahwa niatan ikhlas mengabdi, idealisme, dan kasih sayang yang menguar akan sampai pada murid, bahwa kehangatan dan hukuman yang -sebenarnya- penuh cinta akan membentuk murid menjadi pribadi yang baik.

Apakah berarti pendidikan karakter yang dicanangkan itu omong kosong? Bukan begitu maksudnya, pendidikan karakter menjadi tanggung jawab semua pihak. Ada anak yang memiliki sikap buruk berarti kita semua perlu introspeksi, jangan-jangan niatan kita yang salah lah yang menjadi faktor anak bersikap buruk. Rasa bertanggung jawab ini tidak akan menjelma menjadi tuntutan atau menyalahkan pihak lain. Semua pihak merasa bertanggung jawab.

Disisi lain, memaafkan dan menerima adalah proses pembinaan dan pendidikan karakter yang ampuh. Unconditional positive regards. Jika kita menerima dan memaafkan murid tanpa syarat, tanpa tedeng aling-aling, saya rasa, anak-anak akan menerima dan merengkuh nasihat dan niat baik kita dengan menyeluruh. Hukuman pun akan diterima sebagai konsekuensi yang logis, bukan dengan kebencian dan kemarahan.

In the final score, raising and educating children is an art. Seni menarik-ulur apresiasi dan hukuman. Seni menyayangi, mengasihi, dan berkhidmat. Seni memaafkan, menerima, dan mencintai tanpa syarat. Saya yang papa ini sedang menekuri jalan ini, mungkin dengan tertatih dan terseret, namun dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan.

Salam cinta terkhusus untuk seluruh guru di dunia yang mendedikasikan hidupnya pada perjuangan yang tanpa tanda jasa ini 💟💖💗

Advertisements

Last Day of 25 Years Old Girl

25 years old is an adventurous year,
An age where guilty feeling for own self is overflowing,
A phase where everything seems so unclear and unfair.

25 years old is a taking life off,
Where an important desicion taken of,
When failling, falling, and quitting become choises for optimisist.

25 years old is an up and down stage,
Stage of achievement yet failure,
Stage of determined path or trivial steps. But there is no wasting point in living.

An act between self, ego, and grown up etiquette.

Goodnight, 25!
Welcome a mature and wise self[]

wp-1477499825105.jpg

Busybody 

Saya memiliki draf ini sejak Mei 2015. Kebaikan sikap masinis kereta api yang sedang saya tumpangi mengingatkan saya pada draf yang mangkrak ini.

Hidup sekarang ini individualis. Sebenarnya bukan hanya sekarang ini, sikap individualis sudah sejak dahulu kala tercipta. Dewasa ini makin marak, mungkin karena peran gadget, mungkin juga karena kita terlalu lelah berempati.

***

Suatu waktu, ketika keluarga kami sedang jalan-jalan pagi. Ada saluran air yang mampet sehingga air hujan malam sebelumnya tergenang. Bapak dan Mas saya sibuk mencari cara untuk membuatnya mengalir. Menyogok-nyogok, melakukan ini, melakukan itu. Tampak sibuk sekali. Sebenarnya dibiarkan pun tidak masalah, toh tidak se-wow itu genangannya sehingga harus segera dilancarkan. Namun, Bapak dan Mas saya memilih untuk membuatnya mengalir meskipun pada akhirnya gagal. Continue reading

Ramadhan Berakhir, (mungkin) Ramadhan Terakhir

Hari ke 24 Ramadhan 1937H. Tinggal 6 hari puasa, lima kali tarawih. Apa kabar imanmu hari ini?

Jika dibandingkan dengan Ramadhan tahun lalu, sepertinya Ramadhan tahun ini terasa sangat menyedihkan. Banyak target yang mundur, menurun. Sebagai orang yang sangat sadar bahwa saya bertipe behavioral, artinya membutuhkan kontrak perilaku dan banyak pembiasaan untuk mengubah sikap dan perilaku. Saya sangat sadar bahwa sulit bagi saya untuk tiba-tiba menjadi lebih sholih dari biasanya, beramal lebih banyak dari biasanya.

Continue reading

Rajutan Kesedihan

Pernahkah kau melukis kesedihan?
Biru, kelabu, mendung

Pernahkah kau merajut selendang
dari tetesan air mata?
Selembut kehilangan,
sepedih kerinduan.

Apakah kau tahu kapan kau menjadi dewasa?
Ketika orang terdekatmu, yang selalu ada,
didekap Tuhan tanpa bel penanda.

Aku tahu,
94 purnama itu masa yang panjang
Terlalu panjang hingga aku terlalu yakin bahwa masa itu tak lagi akan datang

Aku tahu,
pertemuan itu pasti berjodoh dengan perpisahan
Tetapi terlalu lama bertemu melenakan aku dari perpisahan yang niscaya

Do’a-do’a terbaik, bait kerinduan yang tersyair, kenangan kebaikan yang terpatri.

Sampai jumpa Mbah Kakung terkasih,
Semoga do’a-do’a terbaik kami meringankanmu dihadapan Ilahi.

*Bait-bait do’a dan kerinduan untuk Mbah Kakung kami, H. Mochtar bin Sahlan yang wafat siang ini (30/4/2016). Sungguh kami mencintaimu, Mbah.