Memaafkan

Meskipun sudah dipenghujung bulan Syawal, membahas tentang maaf-memaafkan tidak pernah terlambat bukan?

Kapan terakhir kali memaafkan dengan sesungguh-sungguhnya maaf?

Pertanyaan ini menghantam kepala saya saat halal bihalal kantor yang lalu. Apakah saya sudah berusaha memaafkan orang lain dengan maaf yang sebenarnya?

Continue reading

Advertisements

Dramatic (less) Life

As drama lover, I saw many dramatic scenes which I don’t want to imagine if my life turn down like them. That’s why I prefer a realistic plot drama to extraordinary life.

As School Counselor of High School, I have seen many problems which appear because of their own self. Everyone have problem, but their attitude is whats really matter.

Moreover for my teenagers student, how responsive they are, just make their own problem become bigger and too complicated to solve. That’s the reason why I am here beside them ๐Ÿ˜Š

Pan to Soup to Neko biyori is one of my favorite example of facing big problem with calm attitude. Let me tell you a lot of things about this relaxing drama ๐Ÿ˜„

This drama told about a life of Aki-chan, 40something woman who just lost her mother because accidental fall in toilet. She worked in publishing company where led her to meet Sensei.

Then, everything start when she choose to resign from their work because of the new management things which not suitable with her. That decision led her to reopen her mother eating place (too simple to called it as restaurant).

Aki chan’s struggle starts here. How she deals with the pain of losing her Mother, giving up of her career, and facing her life. Her choice to open her style of eating place is another journey to discover her self.

And at that time being, someone from her mother’s past come and give another shocking news. How she deal with that shocking fact is completely awesome!

I love how she deals with everything. Keep calm and cool. No hard feeling, no drama. She is her and she is accepting her own self completely. Her compassion of her own life is cool!


This drama is somekind of relaxing vibe for me. Sometimes when I starts acting out like drama queen, I play this 4-lenghts- episodes dorama and relax my drama side.
I choose to be as cool as Aki chan, even though that’s pretty hard. But, I will living my life as dramaticless as her.

Good bye, drama queen~! ๐Ÿ˜„

PS: They have a cute OST! []

Merdeka dari Apa?

Karena masih bulan Agustus jadi, anggap saja postingan ini dalam rangka kemerdekaan Indonesia ๐Ÿ˜…

Baru akhir pekan kemarin saya bisa menyempatkan diri menonton film Hunger Games: Mockingjay part 2. Sudah bukan film trend lagi tapi apalah daya, saya memang selalu menjadi orang yang ga up-to-date.

Seperti yang diketahui para penikmat Trilogi Hunger Games, Katniss selalu mengambil sikap yang tak terduga, anti-mainstream kalau kata anak sekarang. Menunjukkan sikap tidak kooperatif, meledak-ledak, spontan, dan sesuka kehendaknya.

Dan ending Hunger Games yang twisting inilah, yang menurut hemat saya paling seru. Entah mengapa, setelah menonton scene klimaksnya membuat saya berpikir dalam tentang banyak hal.

***

Saat saya menangani kasus bullying siswa saya, cerita Hunger Games, distrik 13, dan Katniss adalah perumpamaan yang sering saya gunakan. Orang-orang baik perlu berkumpul dan mengorganisir langkahnya untuk menghentikan perilaku buruk orang-orang yang egois.

Beresiko tapi itulah cara yang perlu diambil. Maka, perlu berkumpul diam-diam untuk menyatukan suara sehingga bisa memperbaiki keadaan. Namun, lalu kemudian apa?

Menghukum pembully dengan dibully seperti perilaku mereka? Continue reading

I’m (not) Looking for Happiness

A couple days ago (which already last April), my student asked me with his lifeless looking eyes, “Ustazah, Apa yang membuat Ustazah bahagia?”. It took me a moment to answer, “Pertanyaan yang sulit.” and then we laughed together.

Have you ever thought like that? If my student didn’t ask me, maybe I also don’t know for sure what can makes me feel happy. After our long conversation, in my way back home, I thought a lot of things.

What makes my self happy? And then what happy is it self?

Some people said that happy is getting whatever they want. But, people are greedy creature. Getting more, wanting more.

Others said that life is looking for happiness, not becoming successful or rich. But become a happy person.

Which one is right? Continue reading

Saya (masih) Terlalu Mudah Menyerah

Setan Membantu Pemuda ke Masjid

Seorang pemuda bangun awal pagi untuk shalat subuh di Masjid. Dia berpakaian, berwudhu dan berjalan menuju masjid. Di tengah jalan menuju masjid, pemuda tersebut jatuh dan pakaiannya kotor.

Dia bangkit, membersihkan bajunya, dan pulang kembali ke rumah. Di rumah, dia berganti baju, berwudhu lagi dan berjalan menuju masjid.

Dalam perjalanan kembali ke masjid, dia jatuh lagi di tempat yg sama! Dia, sekali lagi, bangkit, membersihkan dirinya dan kembali ke rumah. Di rumah, dia sekali lagi, berganti baju, berwudhu dan berjalan menuju masjid.
Continue reading

Menikah dan Institusi Pernikahan

Sudah hampir tiga bulanย saya tidak menulis ternyata. Sebenarnya banyak draft yang saya bikin, tetapi seperti biasa, saya memulai tanpa menyelesaikannya. Penyakit tidak istiqomah.

Kemarin saya menghadiri pengajian pernikahan seorang tetangga. Apa isinya? Biasa lah, do’a, membaca surat Ar-Rahman, dan kajian. Isi kajiannya pun nasihat pernikahan yang sudah cukup jamak. Yang menggelitik saya untuk menuliskannya karena adanya fenomena sosial yang menarik terjadi.

Pengajian pernikahan dihadiri ibu-ibu pengajian di kompleks rumah saya. Saya belum ibu-ibu, tapi saya menghadirinya atas nama Ibu saya yang tidak bisa hadir. Dalam pengajian tersebut, ibu A (sebut saja begitu karena saya juga ga hafal namanya :p ) yang duduk tepat di sebelah saya adalah wanita yang hingga usia kepala 4 (atau mungkin kepala 5?) belum juga (pernah) menikah. Continue reading

Belajar Rendah Hati

Pagi ini saya membaca chat whatsapp dari Bapak saya. Ternyata dikirim dini hari ini. Pesan ini bisa jadi pesan berantai yang biasa disebar via whatsapp. Namun, karena saya merasa banyak sekali hikmah (nujleb banget ke hati :). So, this is it..
***

BELAJAR DARI BAN

Seorang anak memperhatikan ayahnya yang sedang mengganti ban mobil mereka.

“Mengapa ayah mau repot-repot mengerjakan ini dan tidak memanggil orang bengkel saja untuk mengerjakannya?” tanya si bocah dengan penasaran. Continue reading