10 Tahun dari Sekarang

9 tahun lalu, saat umur saya berubah menjadi kepala dua, saya membuat azzam bahwa di tahun 2030 (saat saya berumur 40 tahun) saya akan menjadi profesor psikologi yang bermanfaat bagi banyak orang.

Dan, di penghujung tahun 2019, azzam itu tampak terasa mendekat, mengikuti, dan untungnya, masih terasa masuk akal bagi kondisi saya sekarang.

10 tahun mendatang, apakah Allah masih memberi umur pada saya?

Continue reading

Advertisements

Pendidikan dan Pembinaan

Saya rasa ini post pertama yang beneran-jadi-diupload di tahun ini. Konyolnya post terakhir saya adalah pertengahan tahun lalu. Ya Rabb~! 🙈

Sejujurnya tulisan ini saya buat untuk curhat dan membenarkan pendapat pribadi. Jadi memang hawa pembenaran diri akan sangat kuat. Mohon dimaklumi jika otot-ngeyelnya terasa kuat 🙏

***

Kalau dihitung kasar, empat tahun menjadi guru BK membuat saya paham bahwa betapa dangkal keilmuan dan pemahaman yang saya miliki. Masalah murid yang saya hadapi sekarang membuat saya sadar akan banyak hal mengenai pendidikan karakter.

Mendidik dan membina itu tugas guru dan sekolah. Orang tua juga punya peran yang sama. Lingkungan pun begitu. Pemahaman bahwa tugas menjadikan anak memiliki pribadi yang kuat dipikul oleh banyak pihak membuat konsep pendidikan karakter menjadi semakin holistik. It takes a village to raise a child.

Di sekolah tempat saya berkhidmat, pelanggaran-pelanggaran kedisiplinan akan berkonsekuensi pada hukuman juga pembinaan. Pembinaan dengan durasi empat bulan dan dipikul oleh empat komponen. Wali kelas, wali asrama, BK, dan kedisiplinan. Setiap komponen harus melakukan coaching minimal 1 bulan dan jangka empat bulan. Itu aturan tertulisnya, pelaksanaannya sering kali lebih dari itu.

Pembinaan seperti itu pun masih punya banyak lubang. Ada yang mengatakan kurang efektif, ada yang berpendapat bahwa justru membuat anak semakin caper — anak-anak di sekolah kami justru sangat suka diperhatikan gurunya 😅 –, atau apalah itu. Sebagai pihak mengontrol dan bertanggung jawab atas hal tersebut, sungguh saya merasa tergelitik. Pembinaan apa yang sebenarnya diharapkan?

Saat masih menjadi mahasiswa dulu, saya pernah mengikuti sebuah call for paper dengan bahasan utama pendidikan karakter. Saya masih ingat betul pertanyaan panel tentang jangka waktu penanaman karakter. Dulu — hingga sekarang — saya percaya bahwa karakter itu terbentuk dari proses yang panjang dan kompleks. Bukan bermaksud membuatnya rumit, namun karakter bukanlah hal terbangun dari satu variabel tunggal melainkan dari banyak variabel yang dikemas dan berjalan dengan amat natural.

Lalu bagaimana dengan pendidikan karakter? Terlepas dari aturan dan sistem yang tertulis dan rigid tentang pelaksanaan pendidikan karakter, saya lebih percaya pada hidden curriculum, kurikulum yang tersembunyi bahwa setiap pribadi adalah guru — dengan status pengajar atau bukan –, bahwa niatan ikhlas mengabdi, idealisme, dan kasih sayang yang menguar akan sampai pada murid, bahwa kehangatan dan hukuman yang -sebenarnya- penuh cinta akan membentuk murid menjadi pribadi yang baik.

Apakah berarti pendidikan karakter yang dicanangkan itu omong kosong? Bukan begitu maksudnya, pendidikan karakter menjadi tanggung jawab semua pihak. Ada anak yang memiliki sikap buruk berarti kita semua perlu introspeksi, jangan-jangan niatan kita yang salah lah yang menjadi faktor anak bersikap buruk. Rasa bertanggung jawab ini tidak akan menjelma menjadi tuntutan atau menyalahkan pihak lain. Semua pihak merasa bertanggung jawab.

Disisi lain, memaafkan dan menerima adalah proses pembinaan dan pendidikan karakter yang ampuh. Unconditional positive regards. Jika kita menerima dan memaafkan murid tanpa syarat, tanpa tedeng aling-aling, saya rasa, anak-anak akan menerima dan merengkuh nasihat dan niat baik kita dengan menyeluruh. Hukuman pun akan diterima sebagai konsekuensi yang logis, bukan dengan kebencian dan kemarahan.

In the final score, raising and educating children is an art. Seni menarik-ulur apresiasi dan hukuman. Seni menyayangi, mengasihi, dan berkhidmat. Seni memaafkan, menerima, dan mencintai tanpa syarat. Saya yang papa ini sedang menekuri jalan ini, mungkin dengan tertatih dan terseret, namun dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan.

Salam cinta terkhusus untuk seluruh guru di dunia yang mendedikasikan hidupnya pada perjuangan yang tanpa tanda jasa ini 💟💖💗

Merdeka dari Apa?

Karena masih bulan Agustus jadi, anggap saja postingan ini dalam rangka kemerdekaan Indonesia 😅

Baru akhir pekan kemarin saya bisa menyempatkan diri menonton film Hunger Games: Mockingjay part 2. Sudah bukan film trend lagi tapi apalah daya, saya memang selalu menjadi orang yang ga up-to-date.

Seperti yang diketahui para penikmat Trilogi Hunger Games, Katniss selalu mengambil sikap yang tak terduga, anti-mainstream kalau kata anak sekarang. Menunjukkan sikap tidak kooperatif, meledak-ledak, spontan, dan sesuka kehendaknya.

Dan ending Hunger Games yang twisting inilah, yang menurut hemat saya paling seru. Entah mengapa, setelah menonton scene klimaksnya membuat saya berpikir dalam tentang banyak hal.

***

Saat saya menangani kasus bullying siswa saya, cerita Hunger Games, distrik 13, dan Katniss adalah perumpamaan yang sering saya gunakan. Orang-orang baik perlu berkumpul dan mengorganisir langkahnya untuk menghentikan perilaku buruk orang-orang yang egois.

Beresiko tapi itulah cara yang perlu diambil. Maka, perlu berkumpul diam-diam untuk menyatukan suara sehingga bisa memperbaiki keadaan. Namun, lalu kemudian apa?

Menghukum pembully dengan dibully seperti perilaku mereka? Continue reading

Suatu Masa, Suatu Waktu

Aku menyukai masa lalu,
ketika pijar semangat itu masih membara dan membakar
ketika api idealisme itu menghanguskan jiwa oportunis nan skeptis.

Aku menyenangi masa remaja,
ketika tekat bulat mengalahkan rongrongan penjilat,
ketika nekat diselebungi harapan yang pekat akan madaninya dunia.

Aku menangisi masa kini,
karena rasa-rasanya sisa prinsip mengikis dan semakin habis
karena justru idealisme tanpa jejak itu melahirkan sikap pragmatis yang egois.

Sungguh, aku ingin kembali pada diriku yang dulu.

[]

Afraid of Future

“Apa yang kamu cari, mal?”
Saya tahu, mata mereka berkata demikian saat saya mengungkapkan keinginan saya. Aneh. Hidup saya sekarang ini adalah kehidupan yang menyamankan. Safe zone. Bekerja dengan gaji yang baik. Pekerjaan yang menyenangkan. Kolega dan teman kerja yang asyik dan akrab. Apalagi yang saya minta sebenarnya.

Tetapi bukan masa depan macam ini yang saya impikan. Bukan rutinitas dan kehidupan macam ini yang saya petakan. Bukan kehidupan yang terlalu nyaman seperti ini. Aneh. Sekali lagi, aneh. Mata mereka berkata demikian. Menggetarkan tekad saya. Saya tergoda, saya goyah. Continue reading