Bundle of Luck (and Miracle)

Pekan ini yang saya kira akan melelahkan dan menantang, ternyata berjalan mulus dan menyenangkan. Saya mendapatkan feedback yang menyenangkan dan positif. Hidup memang begitu, suka sekali memberikan kejutan-kejutan yang terkadang menyenangkan.

Itulah kehidupan saya di paruh pertama tahun ini. Saya diterima di perguruan tinggi yang baik dengan program yang saya harapkan, kemudian mendapatkan pendanaan yang sangat membahagiakan. Keberuntungan yang tidak pernah saya duga sebelumnya.

Tepat sebulan yang lalu, saya menjalani status baru sebagai mahasiswa S2. Status yang sangat membahagiakan terutama karena sudah saya nanti sejak 4-5 tahun yang lalu. Perjalanan #2019GantiStatus ternyata berujung pada perubahan status dari Karyawan menjadi Mahasiswa 😀

Setelah awal tahun ini diterima sebagai mahasiswa, saya mencoba peruntungan untuk mendaftar beasiswa. Biasanya jika dibuka di tahun ini berarti perkuliahan baru akan dimulai tahun depan. Alhamdulillahnya, batch yang dibuka memungkinkan saya untuk mendaftar tahun ini dan kuliah di bulan September ini. Sebuah keberuntungan!

Perjalanan beasiswa bersama orang-orang keren!

Continue reading

Advertisements

A Tale of Strong Woman

Sebenarnya saya tidak terlalu suka membaca otobiografi. Somehow, su’udzon saya, autobiography show some kind of arrogancy. Padahal enggak juga, saya aja yang nyinyir 😛
But, this book don’t show it at all. Otobiografi ini ditulis sedemikian rupa hingga serasa membaca novel. Sangat mengalir dan menyenangkan.

Saya selalu tertarik dengan cerita tentang wanita, perempuan yang memikul tanggung jawab moral dan sosial dari perannya, menjadi dewasa dan kuat dari proses panjang meskipun melelahkan.

Buku ini menceritakan satu dari banyak perempuan hebat yang sangat menginspirasi. Seorang perempuan kuat dari Cina-Amerika dalam Otobiografinya, Menekuk tanpa Menjadi Patah (Bend not Break) Continue reading

Afraid of Future

“Apa yang kamu cari, mal?”
Saya tahu, mata mereka berkata demikian saat saya mengungkapkan keinginan saya. Aneh. Hidup saya sekarang ini adalah kehidupan yang menyamankan. Safe zone. Bekerja dengan gaji yang baik. Pekerjaan yang menyenangkan. Kolega dan teman kerja yang asyik dan akrab. Apalagi yang saya minta sebenarnya.

Tetapi bukan masa depan macam ini yang saya impikan. Bukan rutinitas dan kehidupan macam ini yang saya petakan. Bukan kehidupan yang terlalu nyaman seperti ini. Aneh. Sekali lagi, aneh. Mata mereka berkata demikian. Menggetarkan tekad saya. Saya tergoda, saya goyah. Continue reading

I am Picky!

I am picky, yang menurut saya hampir di segala hal. Sayangnya saya bukan picky eater (apapun menurut saya enak), saya bukan picky wearer (? istilah apaan pula ini -,-‘), maksudnya saya bukan tukang pilah-pilih baju, sepatu, atau fashion apapun, asal layak pakai, asal ada, asal nutup aurat.

Bagian mana yang picky? Saya benar pilah-pilih lowongan kerja. Saya kan pengangguran sibuk 😀 Selama tiga bulan ba’da wisuda baru dua kali saya beneran ngelama kerja, dan baru satu kali ikut interview kerja. Mudah-mudahan masuk, aaamiiinn…

Saya juga picky urusan bercita-cita. Saya nggak mau seenak udel ngganti cita-cita. Nggak nyampe lengan saya memeluk gunung, saya akan mencari buah gomu-gomu supaya tangan saya bisa melar dan memeluk gunung. Perumpaan yang absurd kan?

Menurut saya urusan cita-cita, urusan kerja, urusan karier, bukan hal yang bisa sekenanya digonta-ganti. It’s life determinant! Ngawur sekali, bisa berubah total tatanan hidup saya.

Apalagi urusan jodoh dan pernikahan. Saya benar-benar picky. Bukan picky dengan standar yang orang lain punya, tapi picky dengan standar yang saya buat. Sama seperti karier dan kerja, saya bukan picky masalah gaji dan banyaknya beban kerja. Saya lebih picky tentang, benarkah karier dan kerja itu passion saya? Keahlian saya? Membuat saya berkembang?

Begitu pula urusan jodoh, saya sekali dibawa mati, bahkan sampai akhirat pula. Saya tidak picky karena materi atau rupa, saya rasa saya sangat picky dengan idealisme yang ada. Saya rasa, tidak menikah pun tak apa jika saya tak juga menemukan jodoh yang memiliki idealisme menggelora (jangan sumpahin saya nggak dapet jodoh lho!).

Urusan-urusan itu, karier, kerja, jodoh, bukan hal yang bisa dibuat mainan seperti hari ini mau makan sayur asam atau bayam. Urusan-urusan itu urusan dunia-akhirat yang harga mati sifatnya.

Saya picky? Iya. Tapi, saya rasa, itulah sebentuk idealisme saya.

21 April 2014, 11:54 WIB

The Beginning of My One-Year-Journey

20140622_145224Ini cerita saya. Maybe it’ll be sound very petty but please, let me write whatever I want 😀

Setelah melewati masa pengangguran yang melelahkan hati dan jiwa (sebetulnya saya tidak sepenuhnya nganggur, hanya saja status part-timer atau pengangguran itu cukup melelahkan), akhirnya saya memutuskan untuk move on! Saya move on dari target plan A (ba’da S1 langsung kuliah S2 tanpa kerja dulu) menuju plan B (menunda S2 dengan bekerja, membuka hati untuk peluang beasiswa yang lain).

Semudah itu kah saya move on? Dengan darah dan air mata, saya meyakinkan diri saya bahwa pengalihan target tersebut bukan berarti saya melepaskan mimpi-mimpi saya tetapi menundanya untuk kesempatan yang lebih baik. Semoga, Insya Allah..

Daann, setelah move on, saya memutuskan pada pilihan yang ekstrim! Bekerja sebagai guru di sebuah sekolah Boarding School diujung barat pulau Jawa. Kenapa guru? Karena sebenarnya, saya tidak pernah membuka option pada diri saya untuk bekerja diluar bidang yang saya minati, yaitu pendidikan dan perkembangan psikologi manusia. Option itu adalah benteng terakhir saya untuk menjaga mimpi saya tetap hidup. Seddihhnyaa 😥

*Karena itu, saya selalu iri dengan kabar teman saya yang kuliah S2. Piinggginnya itu selangiiit~*

It sound petty, right? Sungguh, saya berusaha untuk bersyukur dan ikhlas. Bukankah syukur dan ikhlas itu proses? Maka, biarkan saya berproses untuk menginternalisasinya.

Dan, disinilah saya berada. Di kaki gunung, dipinggir pantai, di sebuah dusun di bagian kabupaten Serang. Meski sebenarnya berada disini bukanlah pilihan pertama, pilihan ini saya ambil dengan penuh konsekuensi dan tanggung jawab. Jadi, menjadi guru yang inspiratif dan bekerja sepenuh hati adalah konsekuensi dan tanggung jawab saya.

Maka, biarkan saya memulai perjalanan panjang satu tahun di kawah candra dimuka ini. Layaknya perjalanan-perjalanan sebelumnya, semoga perjalanan panjang ini -bukankah kehidupan adalah perjalanan yang panjang?- menumbuhkan dan mendewasakan saya disetiap denyutnya. Semoga, semoga, dan Insya Allah, semoga!

So, this is it, my beginning of one-year-journey!!